24.9 C
Jakarta
Monday, December 1, 2025
HomeNasionalBanjir Sumatera Menggila: Fakta Mengerikan yang Wajib Kamu Cek Hari Ini

Banjir Sumatera Menggila: Fakta Mengerikan yang Wajib Kamu Cek Hari Ini

Date:

Related stories

Manuver Mengejutkan: Hotman Paris Tersingkir dari Panggung Hukum Nadiem

Lintas Fokus - Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook...

Tragedi Alvaro: Fakta Mengerikan di Balik Hilangnya Sang Bocah

Lintas Fokus - Kasus Alvaro Kiano Nugroho mengoyak hati...

Alarm Serius TPPO Kamboja: Sinyal Bahaya dari Krisis Kerja di Indonesia

Lintas Fokus - Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang...

Blunder Cucun Ahmad Syamsurijal Soal Ahli Gizi: Mengguncang MBG dan Profesi Gizi

Lintas Fokus - Nama Cucun Ahmad Syamsurijal tiba-tiba menjadi...
spot_imgspot_img

Lintas Fokus Dalam beberapa hari terakhir, publik Indonesia dikejutkan oleh gambar jembatan putus, rumah rata dengan tanah, dan warga yang mengungsi hanya membawa pakaian di badan. Di balik semua itu ada satu kata yang kembali memukul kita sebagai negara kepulauan: Banjir. Di Pulau Sumatera, hujan sangat lebat memicu banjir besar disertai longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 30 November 2025, total korban meninggal akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi tersebut telah mencapai sekitar 303 jiwa. Ratusan lainnya masih dinyatakan hilang, sementara puluhan ribu keluarga harus mengungsi ke pos-pos darurat yang tersebar di berbagai kabupaten. Data BNPB menyebutkan bahwa Sumatera Utara menjadi wilayah paling parah dengan lebih dari 160 korban jiwa, disusul Sumatera Barat sekitar 90 orang dan Aceh lebih dari 40 orang.

Kota Binjai di Sumatera Utara menjadi salah satu lokasi awal ketika banjir mulai tercatat pada 26 November 2025. Hujan sangat lebat membuat tiga sungai besar, yakni Sungai Bingai, Mencirim, dan Bangkatan meluap dan menenggelamkan permukiman padat penduduk. BNPB dan pemerintah daerah melaporkan lebih dari 5.800 kepala keluarga atau hampir 20 ribu jiwa terdampak hanya di daerah ini. Situasi serupa terjadi di sejumlah kabupaten di Aceh dan Sumatera Barat, di mana banjir bandang membawa material kayu dan lumpur sehingga akses jalan terputus dan desa-desa terisolasi.

Kepala BNPB Suharyanto menyebut tiga fokus utama penanganan saat ini adalah pencarian korban hilang, pemenuhan kebutuhan pengungsi, serta pembukaan akses ke wilayah yang terputus. Helikopter BNPB dikerahkan untuk menurunkan bantuan logistik di desa-desa terpencil di Tapanuli Tengah dan sekitarnya, sementara TNI, Polri, dan relawan lokal bekerja mengangkut warga yang masih terjebak di rumah yang terendam.

Mengapa Banjir Mematikan Ini Bisa Terjadi di Sumatera

Pertanyaan yang muncul di benak banyak orang adalah: mengapa Banjir kali ini begitu mematikan dan meluas? Jawabannya tidak tunggal. Dari sisi meteorologi, BMKG sejak 23 sampai 27 November telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem untuk sebagian besar wilayah Sumatera bagian utara. Bibit siklon tropis 95B yang berkembang di perairan timur Aceh, Selat Malaka, kemudian menguat dan berevolusi menjadi Siklon Tropis Senyar.

Fenomena siklon tropis di Selat Malaka sendiri dinilai BMKG sebagai kejadian yang tidak umum. Sistem ini meningkatkan suplai uap air dan memicu pertumbuhan awan konvektif sangat tebal di bagian utara Sumatera. Dampaknya adalah hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem dalam durasi cukup panjang, yang pada akhirnya memicu banjir dan longsor di banyak titik.

Namun faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab. Di banyak daerah, alih fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan dan permukiman mengurangi daya serap tanah. Di bantaran sungai, pembangunan permukiman tanpa memperhatikan sempadan sungai membuat air meluap langsung ke rumah warga. Drainase perkotaan yang tidak terpelihara juga memperburuk genangan saat debit sungai meningkat. Pola kejadian ini mirip dengan bencana-bencana banjir besar sebelumnya di Indonesia, hanya saja kali ini skalanya jauh lebih luas dan menimpa beberapa provinsi sekaligus.

Para pakar hidrologi juga menyoroti faktor perubahan iklim yang membuat pola hujan semakin sulit diprediksi dan cenderung ekstrem. Laporan media internasional menunjukkan bahwa wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Malaysia, sedang mengalami salah satu episode banjir terburuk dalam satu dekade terakhir, dengan ratusan korban jiwa di kawasan tersebut.

Wajib Tahu:

Menurut BMKG, hanya sekitar kurang dari 1 persen siklon tropis di kawasan regional yang biasanya mempengaruhi wilayah dekat garis khatulistiwa seperti Indonesia. Itu sebabnya kehadiran Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka yang memicu banjir besar di Sumatera masuk kategori peristiwa cuaca langka dan perlu dicermati serius.

Dampak Sosial Ekonomi yang Mulai Terasa

Bencana banjir di Sumatera bukan lagi hanya soal jumlah korban jiwa yang terus bertambah. Dampak sosial ekonomi mulai terasa di banyak sektor. Di Sumatera Utara, Gubernur Bobby Nasution telah menetapkan status darurat bencana selama 14 hari untuk 10 kabupaten dan kota terdampak guna mempermudah mobilisasi anggaran dan bantuan. Ribuan hektare sawah, kebun, dan lahan ternak tergenang air, mengancam panen dan pendapatan petani di bulan-bulan mendatang.

Di Sumatera Barat, data otoritas setempat menunjukkan puluhan ribu warga mengungsi dan lebih dari 75 ribu orang terdampak, termasuk kerusakan jalan nasional yang menjadi jalur logistik utama dari dan ke pelabuhan. Kerusakan infrastruktur ini bukan hanya menghambat distribusi bantuan, tetapi juga memperlambat pergerakan barang dan jasa yang berdampak pada perekonomian regional.

Di Aceh, banjir dan longsor memutus akses ke sejumlah kecamatan. Jembatan roboh dan jalan amblas membuat distribusi bahan makanan, air bersih, serta obat-obatan harus ditempuh lewat jalur udara atau sungai. Di banyak lokasi, warga bertahan di lantai dua rumah atau bangunan masjid sebelum tim SAR datang mengevakuasi. Media lokal melaporkan tim penyelamat harus bekerja hampir tanpa henti, sering kali dengan peralatan terbatas, untuk memindahkan warga rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

Di sisi kesehatan, risiko yang mengintai pasca banjir juga besar. Genangan air yang tidak segera surut berpotensi memicu penyakit seperti diare, leptospirosis, dan infeksi kulit. Fasilitas kesehatan di beberapa daerah terdampak ikut terendam atau kehilangan pasokan listrik dan air bersih sehingga pelayanan darurat bergantung pada tenda-tenda kesehatan sementara. Petugas kesehatan harus memastikan vaksinasi tetanus dan stok obat penyakit menular cukup untuk mengantisipasi lonjakan kasus di kamp pengungsian.

Bencana ini kembali menggarisbawahi bahwa Banjir bukan hanya urusan pemerintah daerah atau BNPB, tetapi menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat secara luas. Dari harga bahan pangan yang cenderung naik, tertundanya aktivitas sekolah, sampai risiko gangguan pasokan listrik dan air minum di kota-kota besar Sumatera, semuanya saling terkait dan patut diwaspadai masyarakat di luar zona bencana sekalipun.

Langkah Darurat dan Pelajaran untuk ke Depan

Dalam jangka pendek, fokus penanganan tetap pada penyelamatan nyawa dan pemenuhan kebutuhan dasar. BNPB bersama BMKG menjalankan operasi pemantauan cuaca secara intensif agar informasi potensi hujan lebat dan banjir susulan bisa lebih cepat disampaikan ke pemerintah daerah dan masyarakat. Pemerintah pusat juga menyiapkan dukungan logistik, mulai dari tenda, makanan siap saji, air bersih, hingga perlengkapan kebersihan untuk pengungsi.

Operasi modifikasi cuaca dilakukan di beberapa wilayah untuk mengurangi potensi hujan di area bencana, meski efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer. Di lapangan, helikopter BNPB dan TNI diterjunkan mengirimkan bahan makanan ke desa-desa yang terisolasi serta mengevakuasi korban yang membutuhkan perawatan medis segera. Laporan internasional menyebut sebagian warga sempat mencoba menerobos gudang logistik akibat kelangkaan makanan dan air minum, menandakan tingkat keputusasaan yang tinggi di wilayah terdampak berat.

Untuk jangka menengah dan panjang, bencana banjir di Sumatera ini harus dibaca sebagai sinyal keras perlunya perbaikan tata ruang dan pengelolaan daerah aliran sungai. Moratorium pembukaan hutan di kawasan rawan longsor, penertiban bangunan di sempadan sungai, serta rehabilitasi hutan lindung menjadi agenda yang tidak bisa terus ditunda. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat sistem peringatan dini berbasis komunitas, sehingga warga di bantaran sungai bisa segera mengungsi saat debit air mencapai batas berbahaya.

Pendidikan kebencanaan di sekolah dan lingkungan kerja juga selayaknya menjadi budaya baru. Semakin sering masyarakat melakukan simulasi, semakin besar peluang untuk mengurangi korban ketika banjir besar kembali terjadi. Dengan cuaca yang makin sulit diprediksi akibat perubahan iklim, kesiapsiagaan publik menjadi benteng terakhir ketika infrastruktur fisik belum sepenuhnya mampu menahan gempuran air.

Pada akhirnya, bencana di Sumatera bukan hanya deret angka korban jiwa di laporan resmi. Di balik setiap nama ada keluarga yang kehilangan, dan di balik setiap rumah yang hanyut ada cerita perjuangan yang terputus. Kesadaran itulah yang seharusnya menggerakkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk melihat Banjir bukan lagi peristiwa musiman, tetapi ancaman serius yang menuntut perubahan cara kita membangun dan merawat lingkungan.

Sumber: Reuters

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img