Lintas Fokus – Ada momen yang biasanya jadi “alarm” di politik Indonesia. Bukan saat baliho mulai bermunculan, bukan juga ketika elite sibuk rapat tertutup. Alarm itu berbunyi ketika sebuah gerakan relawan mengubah diri menjadi mesin politik yang ingin ikut bertanding.
Itulah yang terjadi pada Gerakan Rakyat. Dalam Rakernas I yang digelar di Jakarta, organisasi ini menyatakan langkah menuju partai politik, bahkan menyebut harapan agar Anies Rasyid Baswedan kelak memimpin Indonesia. Pernyataan itu disampaikan langsung Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, dalam forum Rakernas.
Yang membuat isu ini cepat menyebar bukan sekadar soal “partai baru”. Ada dua kata kunci yang membuat publik menoleh: Gerakan Rakyat dan Anies. Nama Anies sejak Pemilu 2024 memang tidak pernah benar-benar pergi dari percakapan politik, tetapi kali ini konteksnya berbeda. Ini bukan sekadar dukungan moral, melainkan upaya membangun wadah yang bisa menjadi kendaraan elektoral, jika syarat-syarat formalnya kelak terpenuhi.
Di bagian tengah tulisan ini, ada satu hal penting yang sering luput: “partai” bukan cuma deklarasi. Ada rute administrasi yang panjang, mahal, dan penuh jebakan teknis. Itu yang perlu dicermati publik sejak sekarang.
Gambaran: dari ormas menuju partai, kenapa jadi sorotan
Gerakan Rakyat lahir sebagai organisasi masyarakat (ormas) yang berangkat dari jejaring relawan dan simpatisan. Pada fase awal, Anies hadir dalam deklarasi dan diposisikan sebagai tokoh inspirasi. Pada 27 Februari 2025, ketika ditanya soal kemungkinan ormas ini berubah menjadi partai pengusung Pilpres 2029, Anies menjawab singkat: “kejauhan”.
Kalimat itu penting karena menunjukkan jarak yang saat itu ingin dijaga Anies. Namun politik bekerja dengan waktu. Pada 17 Desember 2025, Anies menerima kartu tanda anggota (KTA) nomor 0001 sebagai anggota kehormatan.
Lalu pada 17 sampai 18 Januari 2026, Rakernas I digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta. Forum ini menjadi panggung konsolidasi struktural sekaligus arena pengambilan keputusan arah organisasi. Situs resmi Gerakan Rakyat menyebut Rakernas dihadiri ratusan peserta dari berbagai tingkatan kepengurusan, dan narasi “sinyal mendirikan partai politik” muncul terbuka dalam pemberitaan internal mereka.
Di titik ini, sorotan menguat karena deklarasi menuju partai muncul berdekatan dengan penyebutan Anies sebagai arah perjuangan. ANTARA mengutip Sahrin Hamid yang menyatakan keinginan agar Anies menjadi presiden, disertai frasa penegasan identitas gerakan dengan Anies.
Kronologi dan peta kekuatan di lapangan
Kronologi Gerakan Rakyat jika ditarik lurus terlihat seperti tiga babak.
Babak pertama, 27 Februari 2025. Anies menghadiri deklarasi ormas, tetapi menahan diri ketika pertanyaan mengarah ke partai. Ia menyebut “kejauhan” untuk pembicaraan parpol pengusung 2029.
Babak kedua, 17 Desember 2025. KTA anggota kehormatan bernomor 0001 diberikan kepada Anies. Ini semacam sinyal internal bahwa hubungan bukan sekadar “tamu deklarasi”. ANTARA menuliskan tanggal dan nomor KTA itu secara eksplisit.
Babak ketiga, 18 Januari 2026. Gerakan Rakyat menyatakan langkah menjadi partai politik dengan nama Partai Gerakan Rakyat dalam Rakernas hari kedua, dengan Sahrin Hamid disebut sebagai ketua umum. SINDOnews memuat keputusan ini dan lokasi pengambilannya di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat.
Soal kekuatan jaringan, situs resmi Gerakan Rakyat juga menuliskan gambaran struktur: keterlibatan DPW tingkat provinsi dan DPD tingkat kabupaten/kota yang hadir ke Rakernas. Angka yang disebut di kanal resmi mereka menunjukkan organisasi sudah mengarahkan energi ke konsolidasi nasional, bukan sekadar komunitas relawan kota besar.
Namun ada catatan yang harus tetap tegas: deklarasi dan struktur organisasi internal belum otomatis sama dengan status resmi sebagai partai peserta pemilu. Di Indonesia, jalurnya berlapis. Ada aspek badan hukum, verifikasi, lalu pendaftaran sebagai peserta pemilu sesuai jadwal dan regulasi.
Ini yang berubah, ini yang perlu dicermati
Ini yang berubah: Gerakan Rakyat tidak lagi bicara sebatas gerakan sosial-politik. Mereka sudah menyebut format partai, menyebut ketua umum, dan menyampaikan orientasi kepemimpinan nasional yang mereka harapkan.
Ini yang perlu dicermati: status “menjadi partai” tidak berhenti di panggung Rakernas. Untuk menjadi peserta pemilu, partai politik harus memenuhi persyaratan yang diatur, termasuk sebaran kepengurusan. KPU menjelaskan syarat partai peserta pemilu, antara lain memiliki kepengurusan di seluruh provinsi, dan cakupan kabupaten/kota serta kecamatan dengan proporsi tertentu, disertai ketentuan keanggotaan dan kantor tetap.
Di sisi lain, pernyataan “kesiapan struktur” juga sering terdengar dari banyak partai baru, tetapi tantangannya ada pada pembuktian administratif dan verifikasi faktual. Itu berarti data anggota, alamat kantor, sampai dokumen kepengurusan harus rapi dan konsisten di lapangan. Sekali ada celah, proses bisa tersendat.
Wajib Tahu:
Pada 27 Februari 2025, Anies pernah menyebut wacana ormas Gerakan Rakyat menjadi parpol pengusung 2029 sebagai “kejauhan”.
Pada 17 Desember 2025, Anies disebut menerima KTA anggota kehormatan nomor 0001 dari Gerakan Rakyat.
Rakernas I digelar 17 sampai 18 Januari 2026 di Hotel Aryaduta, Jakarta, dan kanal resmi Gerakan Rakyat menulis soal pengukuhan struktur serta sinyal pendirian partai.
KPU memuat persyaratan partai politik peserta pemilu, termasuk syarat sebaran kepengurusan dan ketentuan administratif lain yang harus dipenuhi sebelum bisa ikut kontestasi.
Kalau publik ingin menilai Gerakan Rakyat dengan adil, ukurannya sederhana: bukan seberapa keras deklarasinya, tetapi seberapa siap mereka menempuh prosedur yang ketat.
Prediksi langkah berikutnya dan dampak ke peta 2029
Prediksi redaksi (bukan fakta): setelah deklarasi, ada tiga pekerjaan rumah yang paling mungkin mereka kebut.
Pertama, legalitas dan administrasi. Partai baru biasanya bergerak mengunci struktur, dokumen, dan sistem keanggotaan. Kedua, konsolidasi pesan. Sejauh ini, Gerakan Rakyat mengangkat tema yang luas, termasuk isu “keadilan ekologis” dalam rangkaian Rakernas. Kanal resmi mereka mempublikasikan tema dan agenda internal semacam itu, yang bisa menjadi fondasi narasi kebijakan.
Ketiga, penentuan posisi politik yang lebih eksplisit. Di titik ini, nama Anies menjadi magnet, tetapi juga bisa menjadi beban. Magnet karena basis simpatisan ada. Beban karena partai baru biasanya langsung diseret ke pertanyaan: apakah ini kendaraan Anies, atau organisasi yang berdiri dengan agenda sendiri?
Untuk Indonesia, artinya ada potensi pergeseran peta oposisi dan dukungan masyarakat sipil menjelang siklus politik berikutnya. Partai baru yang lahir dari jaringan relawan bisa memecah atau mengonsolidasikan dukungan, tergantung bagaimana mereka membangun koalisi dan merekrut figur. Tetapi sekali lagi, ini masih wilayah proyeksi. Fakta yang sudah jelas saat ini: Gerakan Rakyat menyatakan langkah menjadi partai, dan mereka menempatkan Anies sebagai figur sentral harapan politiknya.
Penutupnya begini. Publik tidak kekurangan deklarasi. Yang sering langka justru ketahanan organisasi ketika bertemu meja verifikasi, tuntutan transparansi, dan kerja sunyi membangun struktur. Dalam beberapa bulan ke depan, ukuran serius atau tidaknya Gerakan Rakyat akan terlihat dari langkah-langkah administratif, penguatan struktur nyata, dan konsistensi pesan. Untuk pembaca, pantau perkembangannya lewat kanal resmi dan pemberitaan kredibel, lalu ikuti pembaruan hasil dan prosesnya melalui live score atau pemantauan berita yang kamu lampirkan di akhir.
Sumber: Gerakan Rakyat




