25.1 C
Jakarta
Sunday, January 11, 2026
HomeViralPtosis Diseret ke Panggung Mens Rea, Tompi Tegur Pandji: Batas Candaan atau...

Ptosis Diseret ke Panggung Mens Rea, Tompi Tegur Pandji: Batas Candaan atau Salah Paham Medis?

Date:

Related stories

Drama Tumbler Tuku: Karyawan KAI Dibela Publik, Pemilik Malah Kena PHK

Lintas Fokus - Gegaduhan soal Tumbler Tuku berawal dari...

Heboh Doa Berbayar Yusuf Mansur: Fakta Resmi, Klarifikasi, dan Dampak Nyatanya

Lintas Fokus - Nama Yusuf Mansur kembali memuncaki percakapan...

Ledak atau Lewat? Isu Surpres Pergantian Kapolri yang Menguji Nalar Publik

Lintas Fokus - Isu Pergantian Kapolri tiba-tiba melesat ke...
spot_imgspot_img

Lintas Fokus Per 10 Januari 2026, satu istilah medis yang biasanya hanya muncul di ruang tunggu dokter mata tiba-tiba ikut masuk ke ruang obrolan publik: ptosis.
Kata itu muncul gara-gara materi Pandji Pragiwaksono dalam Pandji Pragiwaksono: Mens Rea, lalu dikritik Tompi yang juga dikenal sebagai dokter.
Bukan cuma soal “boleh atau tidak” menertawakan tokoh publik. Perdebatan bergeser ke hal yang lebih sensitif: ketika candaan menempel ke kondisi fisik yang bisa terkait kesehatan.
Dampaknya dekat untuk pembaca Indonesia karena ini menyentuh dua kebiasaan sehari-hari: budaya roasting dan kebiasaan memberi “diagnosis” dari potongan video.
Ada satu fakta yang membuat isu ini cepat membesar: tayangan Mens Rea sempat masuk jajaran Top 10 Netflix di Indonesia pada periode tertentu menurut laman Top 10 Netflix.
Di bagian tengah tulisan ini, ada penjelasan medis ringkas yang menjelaskan kenapa menyebut “mata ngantuk” bisa terdengar remeh, tapi efek sosialnya tidak selalu remeh.

Dari panggung Mens Rea ke ruang praktik, “ptosis” ikut jadi topik

Mens Rea adalah pertunjukan komedi Pandji Pragiwaksono yang tersedia di Netflix dengan keterangan direkam secara langsung di Indonesia Arena, Senayan. Dalam beberapa hari terakhir, potongan materi dari pertunjukan itu beredar luas melalui percakapan publik dan pemberitaan, termasuk bagian yang menyinggung penampilan fisik seorang pejabat.

Di titik inilah kata ptosis muncul. Tompi, yang selain musisi juga dokter, menyebut bagian candaan itu menyinggung kondisi fisik yang bisa terkait kondisi medis, lalu mengajak publik melihat persoalan ini dengan kacamata berbeda: bukan sekadar selera humor, tapi juga soal empati dan literasi kesehatan.

Latar belakangnya membuat isu ini punya “tenaga” ekstra. Ketika sebuah tayangan komedi masuk platform global, respons publik ikut membesar, apalagi saat tayangan itu tercatat sempat menembus daftar Top 10 Netflix di Indonesia. Dari sini, ptosis berhenti jadi istilah klinis yang sunyi. Ia berubah jadi kata yang dipakai untuk berdebat.

Kronologi: candaan, kritik Tompi, dan respons Pandji yang menolak tubuh jadi sasaran

Menurut laporan Antara, Tompi mengkritik bagian materi Pandji yang menyinggung fisik, dengan penekanan bahwa menertawakan kondisi fisik yang berkaitan dengan masalah kesehatan bukan hal yang tepat. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya berteman dengan Pandji dan pada dasarnya menikmati komedi tersebut, tetapi ada bagian yang ia sesalkan karena menyasar hal fisik.

Di sisi lain, beberapa media juga mengutip respons Pandji yang intinya membedakan antara kritik atau roasting atas gagasan dengan candaan yang menempel pada fisik. Dalam bingkai itu, Pandji diposisikan menerima kritik, tapi menolak tubuh dijadikan peluru.

Perdebatan ini tidak berdiri sendiri. Pada periode yang berdekatan, Mens Rea juga disorot lewat jalur lain, termasuk pemberitaan soal pelaporan ke polisi terkait materi. Ini menambah intensitas perhatian publik, walau inti tulisan ini tetap satu: ptosis dan bagaimana kata itu dipakai untuk menilai batas candaan.

Dari rangkaian respons itu, ada benang merah yang jelas. Tompi mengangkat isu medis dan etika menertawakan fisik. Pandji, berdasarkan pemberitaan yang mengutip responsnya, menegaskan batas: kritik boleh, tubuh jangan.

Apa itu ptosis, dan kenapa perdebatan ini sensitif

Secara sederhana, ptosis adalah kondisi kelopak mata turun (droopy eyelid). Yang sering tidak disadari, ptosis tidak selalu soal estetika. Pada beberapa kasus, kelopak yang turun bisa mengganggu penglihatan karena menutupi sebagian pupil.

Ptosis juga bisa terjadi pada anak. Sisi pentingnya, pada anak kecil, bila penglihatan terganggu dalam periode perkembangan, risikonya bisa lebih serius karena dapat berkaitan dengan “mata malas” (ambliopia) atau gangguan perkembangan visual, sehingga evaluasi dokter menjadi penting.

Penyebabnya beragam. Ada ptosis bawaan, ada yang terkait masalah otot pengangkat kelopak, ada yang berhubungan dengan saraf, penuaan, atau kondisi medis tertentu. Karena itu, menyimpulkan ptosis dari potongan video atau foto saja sering kali jatuh ke dua masalah: salah diagnosis dan salah sasaran empati.

Penanganan juga tidak satu jenis. Pada kasus tertentu, tindakan operasi bisa dipertimbangkan, terutama bila mengganggu penglihatan atau fungsi. Namun keputusan ini bergantung pada pemeriksaan klinis dan penyebabnya, bukan “penilaian warganet”.

Wajib Tahu:

  • Ptosis bisa mengganggu penglihatan, terutama bila kelopak menutupi pupil.

  • Pada anak, ptosis perlu perhatian khusus karena dapat berdampak pada perkembangan penglihatan.

  • Penyebab ptosis beragam, dari bawaan sampai gangguan otot atau saraf.

  • Mens Rea tercatat sempat masuk daftar Top 10 Netflix di Indonesia pada periode tertentu, sehingga sorotannya melebar.

Ini yang perlu dicermati: dari roasting ke normalisasi mengejek kondisi fisik

Ada pergeseran yang patut dicermati. Awalnya publik membahas “batas humor”, tetapi cepat berubah menjadi adu argumen tentang “batas mengejek fisik”. Begitu istilah ptosis muncul, percakapan tidak lagi soal punchline, melainkan soal apakah masyarakat sedang menormalisasi ejekan terhadap sesuatu yang bisa berkaitan dengan kondisi medis.

Di sinilah sudut pandang waspada menjadi relevan. Waspada bukan berarti melarang komedi. Waspada artinya menyadari efek sosial dari candaan yang menempel pada fisik. Candaan semacam itu bisa memperkuat stigma pada orang yang punya kondisi serupa, yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada tokoh publik yang sedang dibahas.

Bagi komika, perdebatan ini juga mengingatkan satu hal yang sering luput dalam euforia “bebas menertawakan siapa saja”. Publik bisa menilai humor bukan hanya dari targetnya, tapi dari mekanismenya. Menertawakan keputusan atau gagasan berbeda dengan menertawakan tubuh. Dan ketika tubuh itu diduga terkait kondisi medis, taruhannya makin sensitif.

Apa artinya untuk Indonesia: literasi kesehatan, empati, dan cara kita bicara di ruang publik

Buat Indonesia, polemik ptosis ini membuka dua pekerjaan rumah yang sering muncul tapi jarang dibahas serius.

Pertama, literasi kesehatan. Kata ptosis mendadak populer, tetapi popularitas istilah medis tidak otomatis membuat publik paham konteks klinisnya. Sumber-sumber medis menekankan bahwa ptosis adalah kelopak mata turun dengan ragam penyebab dan dampak. Itu artinya, menempelkan label medis pada seseorang tanpa pemeriksaan bisa keliru.

Kedua, empati. Saat tubuh seseorang dijadikan bahan, yang tertembak bukan cuma orang yang dituju. Orang lain yang punya kondisi serupa ikut merasa “dilihat” dengan cara yang tidak menyenangkan. Ini efek yang jarang masuk hitungan ketika potongan candaan beredar cepat.

Kalau perdebatan ini berlanjut, yang paling mungkin terjadi adalah dua hal. Di satu sisi, pembuat konten akan makin berhati-hati memilih target candaan karena risiko sosial dan reputasi membesar ketika tayangan masuk platform besar. Di sisi lain, publik akan makin menuntut klarifikasi, terutama ketika istilah medis dipakai untuk menjustifikasi ejekan. Tompi sudah menggeser fokus dari sekadar selera humor menjadi ajakan melihat sisi medis dan etika.

Penutupnya sederhana tapi tegas. Ptosis bukan sekadar kata baru yang enak dipakai untuk debat. Ia adalah kondisi medis yang nyata bagi banyak orang. Ketika istilah itu terseret ke panggung komedi, Indonesia sedang diuji: apakah kita bisa menertawakan kekuasaan tanpa merendahkan tubuh, dan apakah kita cukup dewasa untuk berhenti “mendiagnosis” orang dari layar.

Sumber: AAO

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img