26.9 C
Jakarta
Friday, January 16, 2026
HomeInvestasiIHSG Sudah Rekor, Senin Bisa “Uji Nyali”. Ini Rekomendasi Saham dan Titik...

IHSG Sudah Rekor, Senin Bisa “Uji Nyali”. Ini Rekomendasi Saham dan Titik Waspadanya

Date:

Related stories

spot_imgspot_img

Lintas Fokus (Rekomendasi Saham) IHSG menutup pekan dengan catatan yang sulit diabaikan: rekor tertinggi baru. Pada Kamis, 15 Januari 2026, indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu mengakhiri sesi di level 9.075,406, menguat 0,47 persen dari hari sebelumnya. Kapitalisasi pasar ikut terdongkrak, berada di kisaran 16.512 triliun rupiah.

Yang membuatnya relevan untuk pembaca ritel bukan sekadar angka “rekor”. Perdagangan bursa libur pada Jumat, 16 Januari 2026 karena Isra Mikraj, sehingga pasar baru buka lagi pada Senin, 19 Januari 2026. Artinya, pembukaan Senin menjadi momen “penyesuaian” setelah jeda satu hari bursa, tepat ketika pelaku pasar juga mulai memposisikan diri menjelang rapat kebijakan Bank Indonesia pada 20 sampai 21 Januari 2026.

Ada satu lagi faktor yang diam-diam ikut mengubah ritme: bursa Amerika Serikat libur pada Senin, 19 Januari 2026 (Martin Luther King Jr. Day). Biasanya, libur Wall Street membuat referensi sentimen global lebih tipis, dan kadang memperlebar ruang pergerakan di Asia karena likuiditas global tidak “penuh”.

Di bagian tengah artikel ini, ada dua hal yang perlu Anda pegang sebelum ikut euforia rekor: arah dana asing (siapa yang diborong dan siapa yang dilepas), serta area teknikal yang banyak dipakai pelaku pasar untuk mengukur risiko.

IHSG sepekan menanjak, tapi likuiditas mengecil

Pekan ini bukan sekadar hijau. Data ringkasan perdagangan menunjukkan kenaikan IHSG sekitar 1,55 persen secara mingguan, dari 8.936,754 menjadi 9.075,406, dengan kapitalisasi pasar naik sekitar 1,44 persen ke 16.512 triliun rupiah.

Namun ada detail yang sering lolos: nilai transaksi rata-rata harian justru naik, sementara volume dan frekuensi turun. Rata-rata nilai transaksi harian tercatat 32,68 triliun rupiah (naik 16,12 persen), tetapi volume transaksi turun menjadi 61,67 miliar saham (turun 9,75 persen) dan frekuensi turun menjadi 1,51 juta kali (turun 8,87 persen). Kombinasi seperti ini sering dibaca sebagai “uang besar tetap bergerak”, tetapi tidak selalu diikuti oleh keramaian yang merata di semua saham.

Pada Kamis, 15 Januari 2026, nilai transaksi sekitar 28,08 triliun rupiah dan investor asing mencatat net buy sekitar 947,45 miliar rupiah. Secara kumulatif sejak awal tahun, net buy asing dilaporkan menembus sekitar 7,30 triliun rupiah.

Di level saham, aliran dana asing memberi petunjuk yang lebih tajam. Pada 14 Januari 2026, daftar net buy asing dipimpin ARCI, INCO, ANTM, BREN, TLKM, ASII, TINS, PSAB, MBMA, dan MORA, sementara BBCA termasuk yang mencatat net sell pada hari itu.
Sehari kemudian, 15 Januari 2026, net buy asing kembali dipimpin ARCI, disusul BBRI, BMRI, AKRA, ASII, BBNI, BRPT, INCO, TINS, dan TLKM. Pada hari yang sama, BBCA kembali masuk daftar net sell asing dengan nilai yang lebih besar.

Kalau Anda mencari “tema” yang konsisten dari dua hari tersebut, polanya terlihat jelas: logam dan tambang tertentu, bank besar tertentu, lalu saham-saham likuid yang kerap jadi tempat parkir dana ketika IHSG sedang kencang.

Senin 19 Januari 2026: tiga katalis yang bisa mengubah arah

Bursa Indonesia sempat berhenti sehari karena libur 16 Januari 2026, lalu kembali dibuka Senin. Ini sering memunculkan dua skenario: lanjutan reli karena euforia rekor, atau jeda napas karena sebagian investor memilih mengunci untung.

Katalis pertama adalah faktor kebijakan dalam negeri. Bank Indonesia sudah menjadwalkan Rapat Dewan Gubernur pada 20 sampai 21 Januari 2026. Pasar biasanya sensitif terhadap sinyal suku bunga, likuiditas, dan arah stabilitas rupiah menjelang RDG.
Terakhir, BI-Rate dipertahankan di 4,75 persen pada RDG 16 sampai 17 Desember 2025. Ini menjadi titik acuan utama pelaku pasar dalam membaca kemungkinan langkah BI di Januari.

Katalis kedua adalah kurs. Pada 15 Januari 2026, rupiah dilaporkan melemah ke sekitar 16.896 per dolar AS. Rupiah yang rapuh biasanya membuat pasar lebih selektif, terutama untuk saham yang sensitif impor, utang valas, atau margin yang ketat.

Katalis ketiga datang dari luar negeri, tetapi bentuknya justru “ketiadaan”. NYSE dan sejumlah pasar AS tutup pada 19 Januari 2026. Dalam kondisi seperti ini, sentimen global pada pembukaan Senin lebih banyak ditentukan oleh Asia, komoditas, dan reaksi pasar terhadap berita yang sudah beredar sejak akhir pekan.

Wajib Tahu:

  • Jumat, 16 Januari 2026 bursa libur, jadi penutupan terakhir sebelum Senin adalah Kamis, 15 Januari 2026.

  • IHSG naik mingguan, tetapi volume dan frekuensi transaksi turun. Ini sering berarti penguatan tidak “merata” di semua saham.

  • Ada rotasi asing yang terlihat. BREN sempat masuk daftar net buy pada 14 Januari 2026, lalu masuk daftar net sell pada 15 Januari 2026. Ini sinyal volatilitas, bukan sinyal satu arah.

  • RDG BI pada 20 sampai 21 Januari 2026 bisa mengubah ekspektasi suku bunga. Itu sebabnya perbankan biasanya jadi pusat perhatian jelang RDG.

Rekomendasi saham untuk Senin: fokus arus asing dan sektor pendorong

Bagian ini adalah rekomendasi saham dalam arti “daftar pantauan berbasis data”, bukan jaminan profit. Rekor baru sering mengundang dua karakter pelaku pasar: yang mengejar tren, dan yang disiplin menunggu koreksi tipis untuk masuk.

Pertama, perbankan besar yang terlihat kembali jadi sasaran akumulasi asing. BBRI dan BMRI masuk daftar net buy asing pada 15 Januari 2026. Untuk Senin, keduanya cenderung jadi barometer, karena jika bank besar kuat, IHSG sering ikut “ditopang”.

Kedua, komoditas logam dan tambang yang menjadi “mesin” pergerakan di tengah rotasi sektor. ARCI konsisten memimpin net buy asing dalam dua hari, sementara INCO, ANTM, dan TINS juga muncul berulang. Kalau Anda tipe yang suka mengikuti arus dana, kelompok ini layak dipantau ketat, terutama saat IHSG rawan profit taking karena rekor.

Ketiga, saham energi dan transisi energi yang banyak disebut analis dan juga sering jadi target trading jangka pendek. Sejumlah ulasan pasar menyebut BREN sebagai saham yang direkomendasikan dengan pendekatan “buy on weakness”, sementara PGEO juga masuk radar rekomendasi teknikal. Catatan pentingnya: BREN termasuk yang berubah posisi dari net buy ke net sell harian, jadi risikonya lebih tinggi dan disiplin batas rugi lebih relevan.

Keempat, saham defensif likuid yang kerap jadi tempat parkir ketika pasar besar bergerak cepat. TLKM masuk daftar net buy asing dalam dua hari dan ASII juga kembali muncul. Untuk Senin yang “dipenuhi risiko headline” jelang RDG BI, saham defensif seperti ini biasanya ramai dilirik karena volatilitasnya relatif lebih terukur dibanding saham tematik.

Ini yang berubah dan perlu dicermati sebelum membuka posisi pada Senin: setelah IHSG menembus 9.000, level teknikal sering jadi pemicu aksi cepat. Sejumlah analisis pasar menempatkan area support di sekitar 8.950 dan resistance di kisaran 9.090 sampai 9.120. Dengan kata lain, ruang naik masih ada, tetapi jaraknya tidak jauh. Salah langkah di harga puncak bisa langsung “ketemu” profit taking.

Jika Anda tetap ingin masuk, pendekatan yang paling masuk akal di fase rekor adalah memilih saham yang selaras dengan arus dana (asing atau institusi), lalu menunggu harga melemah tipis, bukan mengejar di puncak harian. Banyak platform riset ritel juga menekankan pola ini, termasuk daftar saham pilihan yang menyorot ANTM, BBRI, dan BREN.

Skenario pekan depan: reli lanjut atau jeda napas?

Yang paling mungkin terjadi pada Senin, 19 Januari 2026 adalah perdagangan yang lebih selektif. Rekor IHSG memberi ruang optimisme, tetapi tiga hal membuat kewaspadaan wajib dipasang dari awal: bursa baru buka lagi usai libur, rupiah sedang tidak perkasa, dan RDG BI sudah di depan mata.

Skenario positifnya sederhana: IHSG bertahan di atas area support yang dipantau pelaku pasar, bank besar tetap kuat, dan arus dana asing tidak berubah arah. Skenario waspadanya juga jelas: IHSG bergerak tersendat di area resistance, lalu muncul aksi ambil untung di saham-saham yang sudah berlari jauh, terutama yang arus asingnya terlihat bolak-balik.

Pada akhirnya, rekomendasi saham untuk Senin bukan soal mencari “yang pasti naik”, melainkan memilih posisi yang risikonya bisa dikendalikan. Dalam kondisi IHSG rekor, disiplin justru lebih berharga daripada keberanian. (rekomendasi saham)

Sumber: Investing

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img