26.9 C
Jakarta
Sunday, January 11, 2026
HomeTechnologyGolda 19 Detik dan Perburuan Link: Ancaman Phishing Mengintai Pengguna Indonesia

Golda 19 Detik dan Perburuan Link: Ancaman Phishing Mengintai Pengguna Indonesia

Date:

Related stories

Mola TV Tutup Layanan: Fakta Pahit di Balik Keputusan Mengejutkan

Lintas Fokus - Keputusan Mola TV untuk menghentikan layanan...

Ultimatum Keras Komdigi: Ancaman Sanksi dan Putus Akses Cloudflare

Lintas Fokus - Dalam beberapa hari terakhir, ruang digital...

Vivo X300 & X300 Pro: Kamera 200 MP yang Siap Mengguncang Flagship

Lintas Fokus - Vivo tidak lagi cuma “ikut meramaikan”...
spot_imgspot_img

Lintas Fokus Ada dua hal yang terjadi bersamaan ketika kata kunci Golda dan “19 detik” mendadak ramai di kolom pencarian. Pertama, rasa penasaran kolektif yang khas internet. Kedua, pola lama yang selalu mengikuti tren semacam ini: munculnya tautan-tautan “katanya asli” yang mengarah ke halaman tak jelas, iklan agresif, sampai skema pencurian data.

Sejumlah media arus utama menulis bahwa isu “video botol Golda durasi 19 detik” beredar luas sebagai rumor, tetapi bukti visual yang terverifikasi dan pernyataan resmi yang mengonfirmasi keberadaan video itu belum ditemukan. Pada saat yang sama, tautan yang beredar justru diingatkan sebagai jalur berbahaya karena mengarah ke phishing dan malware.

Di titik ini, penting untuk tegas sejak awal: artikel ini tidak akan membagikan “link video” apa pun. Bukan cuma karena rawan menjerumuskan pembaca ke penipuan, tetapi juga karena sebagian narasi yang menempel pada isu ini mengarah ke konten sensitif dan eksploitasi rasa penasaran.

Yang lebih penting untuk pembaca Indonesia bukan “videonya ada atau tidak”, melainkan mengapa pola semacam ini berulang, bagaimana kronologinya bergerak, dan bagaimana cara melindungi akun serta data pribadi ketika kata kunci Golda dipakai sebagai umpan.

Kenapa “Golda 19 detik” bisa meledak di pencarian

Jejaknya banyak muncul dari konten pendek di TikTok yang memakai teks menggantung, mengarahkan orang untuk “cari versi lengkap”, atau menyebut durasi tertentu tanpa konteks utuh. Beberapa laporan media menyebut fenomena ini mendorong pengguna untuk berpindah platform, biasanya lewat ajakan di kolom komentar atau bio, agar mencari “versi full”.

Lalu muncul tahap berikutnya: tautan pendek. Shortlink terlihat rapi, mudah disalin, dan terasa “aman” karena tampak seperti tautan biasa. Padahal banyak shortlink hanya berfungsi sebagai gerbang, tujuan akhirnya bisa berubah-ubah dan sulit ditebak.

Di sinilah orang sering lengah. Mereka mengejar rasa ingin tahu soal Golda, tetapi yang dibuka justru rangkaian halaman yang memaksa klik berlapis, meminta izin tertentu, atau mengarahkan ke unduhan. Kementerian Komunikasi dan Digital pernah mengingatkan publik bahwa tautan berbahaya kerap dibungkus seolah-olah resmi, padahal palsu dan berisiko.

Kronologi penyebaran: dari potongan, komentar, sampai jebakan tautan

Kronologi yang bisa dirangkai dari sejumlah liputan media menunjukkan pola bertahap.

Pada 16 Desember 2025, setidaknya sudah ada tulisan yang menyebut “botol Golda 19 detik” sebagai tren pencarian dan mengaitkannya dengan perburuan “link video full”.

Lalu pada 17 Desember 2025, ada media lain yang menggambarkan kemunculan istilah itu sebagai “keyword” yang dipantik oleh unggahan dengan narasi menggantung.

Menjelang akhir tahun, tepatnya 29 Desember 2025, ada laporan yang menekankan satu hal krusial: keberadaan video yang dimaksud belum bisa dipastikan, dan klaimnya tidak disertai bukti valid yang bisa diverifikasi dari sumber tepercaya.

Memasuki Januari, artikel-artikel bertema “link video” kembali bermunculan. Pada 9 Januari 2026, Medcom menulis lebih lugas: rumor soal “video botol Golda 19 detik” belum terbukti, sementara tautan yang beredar justru terindikasi phishing dan malware, yang dapat berujung pencurian data hingga peretasan akun.

Pola ini bukan khas satu kasus. Ini pola industri umpan klik yang memanfaatkan kata kunci populer, termasuk Golda, agar orang mau menyeberang ke tautan yang dikendalikan pihak tak bertanggung jawab.

Ini yang berubah dan perlu dicermati: kalau dulu “umpan” sering berupa file unduhan langsung, kini banyak jebakan dibuat bertingkat. Anda tidak diminta mengunduh di awal. Anda diminta “klik untuk lanjut”, lalu “verifikasi”, lalu “tunggu 5 detik”, lalu diminta login, atau diminta memasang aplikasi. Di balik langkah-langkah itu, data Anda yang jadi taruhan.

Risiko nyata: bukan sekadar rasa malu, tapi akun dan uang

Bahaya paling konkret dari perburuan “link video” bukan cuma tersesat ke konten yang tidak pantas. Risikonya bisa lebih mahal: akun diambil alih, OTP dicuri, email dibajak, bahkan akses perbankan diretas jika korban masuk ke halaman palsu.

BSSN berulang kali mendorong publik untuk berhati-hati terhadap tautan dari pesan yang tidak diharapkan dan memverifikasi keaslian pengirim sebelum mengklik. Dalam konteks Indonesia, model penipuannya makin bervariasi, termasuk lewat SMS phishing, yang menurut BSSN perlu diwaspadai dengan mencocokkan tautan pada pesan dengan situs resmi.

TikTok sendiri juga mengingatkan pengguna untuk berhenti sejenak sebelum mengklik tautan dari email, SMS, atau DM yang tidak terduga, serta mewaspadai ajakan memindahkan percakapan ke layanan lain.

Wajib Tahu:

Pertama, rumor “durasi spesifik” seperti 19 detik sering dipakai karena mudah menempel di kepala orang dan gampang dijadikan kata kunci pencarian. Media yang menelusuri isu Golda menyebut narasinya berkembang tanpa bukti visual yang valid.

Kedua, shortlink itu bukan sekadar “tautan pendek”. Banyak instansi daerah mengingatkan shortlink bisa menyamarkan tujuan akhir, sehingga pengguna sebaiknya mengecek dulu arah redirect sebelum klik.

Ketiga, phishing tidak selalu meminta password langsung. Ia bisa memancing Anda memberi izin, memasukkan email untuk “lihat konten”, atau login lewat halaman yang meniru tampilan platform populer. BSSN dan berbagai CSIRT menekankan prinsip yang sama: verifikasi, jangan klik sembarangan, dan waspadai situs palsu.

Keempat, pelaporan itu penting, dan bisa dilakukan langsung di TikTok. TikTok menyediakan langkah “Report” pada postingan untuk konten yang melanggar pedoman, baik lewat aplikasi maupun browser.

Apa artinya untuk Indonesia: literasi digital yang menentukan korban atau selamat

Indonesia punya basis pengguna media sosial yang besar. Itu kabar baik untuk ekonomi kreator, tetapi sekaligus ladang subur bagi penipu yang bermain di sela rasa penasaran massa.

Kasus berlabel Golda ini menegaskan masalah yang sering diremehkan: perburuan tautan “katanya asli” adalah pintu masuk yang rapi untuk menjerat korban. Begitu satu orang membagikan shortlink ke grup, pola menyebar cepat. Orang yang merasa “cuma lihat-lihat” bisa berakhir memasukkan email, lalu password, lalu menyambungkan akun, semuanya di halaman yang tak pernah benar-benar ia kenali.

Dampak paling dekat untuk pembaca Indonesia sederhana dan nyata. Jika Anda memakai kata sandi yang sama di banyak akun, sekali saja Anda terjebak phishing, efek domino bisa merambat ke Instagram, Facebook, Gmail, sampai marketplace. Dari situ, penipu bisa mengambil alih akun untuk menipu kontak Anda, melakukan penipuan transaksi, atau menjadikan akun Anda mesin spam.

Respons yang paling masuk akal adalah mengubah kebiasaan kecil. Jangan klik tautan dari akun anonim. Jangan percaya klaim “full video” yang memaksa Anda berpindah platform. Jika Anda sudah telanjur mengklik, hentikan sebelum memasukkan data apa pun. Periksa lagi alamat situs, dan keluar.

Bila menemukan konten atau akun yang menyebarkan tautan mencurigakan, lakukan pelaporan di platform. TikTok menjelaskan mekanisme pelaporan postingan melalui menu “Report” dan pilihan kategori alasan.

Menutup isu ini dengan jernih berarti memindahkan fokus dari sensasi ke fakta. Sampai 10 Januari 2026, laporan media tepercaya yang menelusuri isu “Golda 19 detik” lebih banyak mengarah pada rumor yang tidak terverifikasi, sementara ancaman yang benar-benar nyata justru datang dari tautan palsu, phishing, dan malware.

Jika tren pencarian ini masih berlanjut, yang kemungkinan terjadi berikutnya juga bisa ditebak: muncul “versi-versi baru” dengan durasi berbeda, istilah berbeda, dan platform berbeda. Ujungnya sama, mengejar klik. Dan dalam permainan itu, satu-satunya cara menang adalah tidak ikut bermain.

Sumber: medcom.id

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img